Sudah sangat lama saya tak melihat televisi nasional, pun menonton televisi berbayar. Saya menikmati dan menghabiskan waktu dengan membaca, menulis dan jalan-jalan diluar rutinitas yang lain. Saya tak tahu saat merebak begitu cepatnya berita tentang seorang gadis yang melabrak perempuan yang dianggap sebagai perebut ayahnya, bila saja tak membaca berita yang melintas di sebuah linimasa.
Lalu gemuruh sorak dukungan terjadi tak kalah cepatnya dari para perempuan, yang mengenal keduanyapun tidak. Hanya melihat gambar, dan membaca berita, sudah berani memberi kesimpulan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Layaknya pengadilan jalanan beraksi.
Tak ada asap bila tak ada api. Tak ada kehebohan bila tak ada orang-orang yang reaktif. Semua tiba-tiba saja menjadi manusia suci yang berani berteriak lantang mengolok sang 'tersangka' dengan sebutan pelakor, perebut laki orang. Berbumbu masa lalu sang tersangka, semakin riuh masakan yang tersaji di media. Segala rekam jejak laksana sebuah medical record dibongkar habis tanpa ampun.
Yang jadi masa lalu dan tak lagi punya hubungan di'ketuk' pintunya kembali untuk sekedar meminta pendapat. Melupakan nasihat bahwa masa lalu adalah yang terjauh dari kita. Melupakan etika bahwa yang ditanya punya hati yang juga berhak dijaga. Semua merasakan bahwa itu punya korelasi yang kuat. Segalanya masuk dalam seranai yang begitu panjang. Tanpa ampun namapun diungkap begitu penuh keriangan. Layaknya pesta yang harus terus di meriahkan.
Di tempat lain, yang menepi hanya menggeleng tanpa makna, yang tak peduli tertawa meringis dalam bibir penuh cibiran yang tak dibuka. Anehnya, perempuanlah yang paling riuh berteriak. Tanpa risih, tanpa berpikir panjang.
"Sudah jelaslah bila dia salah, wong dia merebut ayahnya, pantas bila sang anak murka!"demikian dalih mereka.
Jadi memikirkan sendiri kata merebut, perebut, dan direbut.
Siapakah yang merebut. Siapakah yang jadi perebut, dan siapakah yang merasa direbut disini? Persoalan klasik yang tak akan pernah berhenti hingga dunia ini musnah. Bahwasannya setiap diri selalu merasa berada dipihak yang benar, itupun sudah penyakit lama.
Setiap perkawinan tak ada yang sempurna. Menyatukan dua kepala, dua cara berpikir, dua keluarga besar yang punya nilai berbeda, dan pertumbuhan pribadi yang juga berbeda, butuh perjuangan yang cukup panjang. Setiap hari sejak dari ijab terucap, bulan dan tahun yang terus berganti, bersama dengan orang yang sama yang dulunya tak bertumbuh bersama kita, bahkan tak kita kenal juga butuh perjuangan.
Ibaratnya suatu hari salah satunya tersadar, bahwa ada pintu yang makin menganga. Pintu yang disepelekan saat masih terbuka sedikit, lalu terus terbuka bersama angin dan yang berlalu lalang setiap hari. Menganggap akan ada yang akan menutupnya saat mereka pergi. Berharap sang penjaga rumah yang menutup rapat, sayangnya tak terjadi. Melalui pintu yang terbuka itulah masuk orang asing yang tak diundang.
Jika barang yang digondol, masih bisa dibeli lagi. Namun ketika sang suami yang berada dirumah saat dia datang, siapa yang merebut disini?
Awalan me berarti aktif, me berarti melakukan. Jika benar sang tamu itu merebut, harusnya ada pihak ketiga yang tahu dan melihatnya hingga bisa disebut merebut yang akhirnya dikatakan saksi sebagai perebut. Jika tamu itu datang dengan segala pesona dan kebaikannya, dan penuh kesadaran sang suami menghabiskan waktu bersama sang tamu, siapa yang direbut?. Harusnya bila benar ada kehadiran 'saksi' yang bisa saja itu pasangan sah sang suami atau paling tidak sang anak, dan mereka berjuang untuk mempertahankan sang suami atau sang ayah, maka pantaslah sang tamu itu disebut sebagai perebut.
Tak hanya dalam hitungan hari, namun sudah dalam hitungan tahun. Barulah kebersamaan sang suami bersama'tamu' terkuak, lalu kemana 'mereka' selama ini?
Sepasang suami istri ibaratnya saling memegang kunci hati pasangannya. Harusnya saling tahu isinya. Namun ketika diabaikan dan kuncinya digeletakkan begitu saja, maka kemungkinan hilang itu selalu ada. Siapa yang sebenarnya salah disini?
Tak semua orang bisa setia. Baik lelaki atau perempuan semuanya lemah dalam godaan. Lelaki bisa jadi lemah dengan godaan wanita, perempuan bisa lemah dalam godaan materi. Tak ada maksud sedikitpun untuk membela para perebut, baik perebut suami ataupun perebut istri orang. Setiap kejadian pasti ada sebab dan akibatnya. Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.
Pada akhirnya nanti yang dilihat adalah bagaimana kita mengakhiri kisah buku kehidupan kita. Bisa jadi yang sekarang disebut dan dihakimi sebagai pihak yang buruk berakhir dalam kebaikan. Juga berlaku sebaliknya, yang sekarang merasa paling baik dan benar bisa berakhir dalam kekufuran.
Hidup adalah proses. Hidup juga sebuah perjalanan yang tak terbantahkan. Semua akan melewati beragam jalan. Jalan yang mulus ataukah penuh liku. Jalan yang datar, menurun ataukah perjalanan yang terus mendaki. Ada yang tiba dengan selamat walau penuh luka dan berdarah-darah. Ada yang tersesat, dan ada yang terjatuh ditengahnya dan tak ditemukan lagi.
Dalam setiap kejadian, cobalah melihat lebih dalam. Jangan mudah bicara tanpa dipikir. Islampun mengajarkan tabayyun, bukan asal menyimpulkan hanya dari cerita sepihak. Apalagi hanya karena sesama perempuan. Setiap orang menjalani takdirnya sendiri. Sekali lagi, tak ada yang namanya kebetulan dalam hidup ini.
No comments:
Post a Comment